Pelaksanaan Regulasi Halal di Negara Australia

Posted: 21 Oktober 2010 in all about my task

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Sains Farmasi Islam


“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang

telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah

nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya menyembah”

(Q.S An-Nahl:114)

 


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang membahas tentang pelaksanaan regulasi halal di negara Australia.

Makalah  ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah sains farmasi islam. Makalah ini bermanfaat untuk memberi perhatian yang besar terhadap masyarakat agar memahami akan pentingnya keamanan dan kehalalan suatu produk yang akan dikonsumsi. Selama penulisan makalah ini penulis mendapatkan pelajaran dan wawasan baru juga. Selain itu, penulis pun menemui beberapa kesulitan, tapi berkat bantuan, dukungan dan doa dari orang-orang sekitar, penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Untuk itu tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung dan memberikan dorongan baik secara moril dan materil dalam penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu penulis masih mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar dapat lebih menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi kita semua pada umumnya.

Bandung, April 2010

Penulis

 

BAB 1

PENDAHULUAN

Makanan halal merupakan makanan yang diizinkan dikonsumsi menurut syariat Islam. Kriterianya antara lain tidak mengandung babi, anjing, ular, monyet, binatang karnivora dengan cakar dan taring, burung dengan cakar, serta tidak mengandung alkohol. Oleh karena itu dibuatlah sertifikasi halal untuk produk pangan yang bertujuan melindungi konsumen, khususnya umat Muslim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia dari produk pangan yang haram. Sertifikasi halal merupakan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)  yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat islam. Saat ini, sertifikasi halal dibutuhkan perusahaan-perusahaan besar dunia dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Jepang dan ASEAN.

Standar sertifikat halal MUI sedang dalam proses menjadi standar sertifikat halal ASEAN dan mengarah menjadi standar sertifikat halal global. Berbagai lembaga sertifikat dunia minta pengakuan MUI, karena secara prinsip sertifikat halal MUI sangat moderat sehingga bisa diterima banyak pihak.

 

BAB 2

PEMBAHASAN

Kehidupan di Australia yang multikultural dan bebas, layaknya di Eropa dan Amerika mengharuskan umat Islam di negeri ini menyelaraskan diri dengan kehidupan setempat. Namun demikian, mereka tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam. Dengan keanekaragaman budaya, agama, dan bahasa, umat Islam di Australia yang terus berkembang, harus membentengi akidah umat dengan cara-cara yang sesuai tuntunan Alquran dan hadis Nabi SAW. Salah satu yang sangat penting dan mendesak dilakukan umat Islam setempat adalah mengonsumsi makanan dan minuman halal. Karena jumlah pemeluk non-Muslim mencapai 98 %, sangat sulit untuk mendapatkan makanan-makanan yang jelas-jelas halal. Untuk itulah, Australian Federation Islamic Council (AFIC) bersama-sama dengan organisasi Islam lainnya, mendirikan lembaga penerbit sertifikasi halal baik untuk rumah makan (restoran) maupun rumah pemotongan hewan (abatoir).

Di kawasan yang mayoritas penduduknya non-Muslim seperti Perth, Australia Barat, keberadaan lembaga yang memberikan sertifikasi halal sangat penting bagi Muslim di sana. Dan ternyata salah seorang yang mengurusi sertifikasi halal di sana adalah orang Indonesia, yaitu Imam Abdul Jalil Ahmad. Beliau termasuk salah satu tokoh Islam di Perth yang cukup dikenal, dia memimpin salah satu lembaga yang sebenarnya semua ada lima yang dipercaya memberikan sertifikasi halal bagi rumah makan (restoran), supermarket/minimarket, penjual daging atau roti, dan seafood yang ada di Perth.

Imam mengatakan, keberadaan lembaganya cukup penting bagi masyarakat Muslim di Perth. Maklum, di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, mencari dan mengenali makanan halal tidak mudah.

Agar masyarakat dapat mengetahui bahwa sebuah makanan telah mendapatkan sertifikasi halal dari The Islamic Council atau belum, biasanya penjual akan menempelkan sertifikasi halal di depan pintu rumah makan atau toko. Kendati jumlahnya belum banyak, perkembangan umat Islam di Perth cukup menggembirakan. Sejak peristiwa 11 September (gedung WTC New York yang ditabrak pesawat oleh teroris 2001), jumlah umat Islam terus bertambah. Selain masyarakat bisa melihat langsung sertifikat halal di toko atau rumah makan, pihak Islam Council mengeluarkan buku panduan yang berisi daftar toko atau rumah makan yang telah mendapatkan sertifikasi halal.

Saat ini, cukup banyak rumah makan yang telah mendapatkan sertifikat halal dari otoritas sertifikat halal Australia itu. Secara keseluruhan, jumlahnya mencapai 265 buah rumah makan, toko daging, dan lainnya. Di negara bagian Victoria, terdapat 87 buah rumah makan dan toko daging yang sudah mendapatkan sertifikat halal. Di Australia Selatan sebanyak dua buah, Australia Barat sebanyak 16 buah, Tasmania dua buah, New South Wales sebanyak 97 buah, Queensland sebanyak 52 buah, dan Northern Teritory (NT) sebanyak dua buah.

Dengan adanya sertifikasi halal itu, warga Muslim Australia tak merasa khawatir lagi untuk mencari rumah makan di seluruh wilayah Australia. Kebanyakan rumah makan atau toko daging yang sudah mendapatkan sertifikat halal itu adalah rumah makan milik orang-orang Indonesia, Turki, Libanon, Paksitan, Bangladesh, Sudan, Mesir, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

2.1 PROSEDUR PENGAJUAN

Penetapan Fatwa Halal itu sendiri didasarkan pada tiga hal prinsip, yaitu :

1. ketentuan syariah

2. scientific base atau kaidah ilmiah

3. social-culture base atau kultur masyarakat

Pertama,  ketentuan syariah merupakan prinsip dasar yang tak bisa ditawar dengan rujukan Al-Quran dan Al-Hadits. Kedua Kaidah ilmiah, yakni aplikasi dari perkembangan-perkembangan iptek dalam proses pengolahan bahan pangan. Seperti metode stunning atau pemingsanan dalam proses penyembelihan hewan, dan perbedaan antara khamr dan alkohol untuk menetapkan status halal dari masing-masing bahan atau produk tersebut. Yang ketiga, kultur masyarakat kita. Seperti Rumah Potong Hewan (RPH) yang halal harus terpisah dari rumah potong babi, misalnya karena berdasarkan pengalaman selama ini, masyarakat kita tidak dapat menerima adanya RPH sapi dan babi yang beroperasi di satu atap atau bangunan. Walaupun secara manajemen dan peralatan yang dipergunakan dapat dijamin terpisah, masing-masing tidak terjadi kontaminasi sama sekali. Namun masyarakat kita agaknya belum dapat menerima praktek yang semacam itu.

Pada tahap pertama, produsen mengisi formulir yang telah disediakan oleh LPPOM-MUI, formulir pengajuan itu dibedakan menjadi tiga macam produk :

1. makanan dan minuman olahan

2. usaha restoran

3.hewan potong

Surat pengajuan sertifikasi harus dilampiri sistem mutu, termasuk panduan mutu dan prosedur baru pelaksanaan. Kemudian produsen menandatangani pernyataan kesediaan menerima tim pemeriksa dari LPPOM-MUI dan memberikan contoh produk serta bahan baku, bahan penolong, dan bahan tambahan untuk diperiksa. Pengusaha wajib memperlihatkan semua dokumen asli untuk dijadikan jaminan atas kehalalan produk yang diajukan dan memberikan kopiannya kepada LPPOM-MUI. Lalu setelah mengisi lengkap formulirnya dikembalikan dan kelengkapan dokumen akan diperiksa. Jika tidak lengkap, maka dokumen akan dikembalikan untuk dilengkapi kembali, setelah lengkap barulah diperiksa ke lokasi produsen. Kemudian, hasil dievaluasi dan memenuhi syarat halal akan diproses sertifikasi halalnya, yang harus diperhatikan yaitu, jika ada perubahan pemakaian bahan baku, bahan penolong atau bahan tambahan dalam proses produksinya. Produsen wajib melapor ke LPPOM-MUI untuk mendapatkan persetujuan atas pernyataan “ketidakberatan menggunakannya”.

Sertifikat halal itu berlaku selama dua tahun, dan setelah itu harus diperpanjang kembali. Tahapannya, produsen menyerahkan produknya kepada LPOM untuk diaudit bahannya. Kemudian, halal atau tidaknya akan ditentukan oleh Komisi Fatwa MUI. Setelah mendapatkan sertifikat halal yang membutuhkan biaya Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per produk, produsen harus memelihara kehalalan produknya dengan menggunakan sistem asuransi halal.

Contohnya di Australia seperti daging ayam atau sapi, kendati daging dari dua binatang itu halal bagi umat Islam, cara penyembelihannya sangat menentukan halal atau tidaknya daging tersebut untuk dikonsumsi. Karena itu, sertifikat halal yang dikeluarkan sebuah lembaga seperti The Islamic Council of Western Australia sangat penting. Dari sanalah sebuah makanan bisa dipastikan kehalalannya. Untuk mengeluarkan sertifikasi halal, dilakukan beberapa tes. Pertama  meneliti bahan-bahan makanan, kemudian memantau proses pengolahannya. Untuk daging sapi atau ayam, mereka memantaunya saat hewan tersebut disembelih. Penyembelihnya juga ditanya tentang agamanya, orang itu harus muslim dan harus mengetahui tata cara menyembelih hewan ternak.

2.2 BADAN SERTIFIKASI HALAL

Di Australia, terdapat beberapa lembaga penerbit halal, di antaranya AFIC, Otoritas Sertifikat Halal Australia, Al-Iman Islamic Society, Australian Halal Food Service, Adelaide Mosque Islamic Society of South Australia, Islamic Cordinating Council of Victoria (ICCV), Perth Mosque Incorporated, Islamic Association of Katanning, dan Geraldton. Beberapa lembaga penerbit sertifikasi halal ini telah diakui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Termasuk, beberapa rumah pemotongan hewan, seperti ICCV, Adelaide Islamic Mosque Society, Supreme Islamic Council of Halal Meat in Australia, dan Perth Mosque Inc. Lembaga-lembaga inilah yang memberikan sertifikasi halal pada rumah-rumah makan di Australia dan merupakan badan independen biasanya dari Islamic Center Australia sendiri, serta tidak ada campur tangan dari pemerintah.

2.3 LOGO HALAL DI NEGARA AUSTRALIA

Di Negara Australia terdapat beberapa logo halal atau tidak hanya satu yang dimiliki, hal ini dikarenakan badan-badan sertifikasi halal di sana banyak sekali.

2.4  SISTEM SERTIFIKASI HALAL

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerapkan sistem jaminan sertifikasi halal terhadap para produsen makanan, obat, dan kosmetik.  Peran LPPOM-MUI saat ini telah diakui secara luas di kancah internasional. Prosedur dan persyaratan yang digunakan untuk menentukan kehalalan produk di Indonesia kini juga menjadi rujukan standar halal di berbagai negara, mulai dari negara-negara ASEAN hingga negara-negara seperti Arab Saudi, Belanda, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada. Tak hanya itu, saat ini MUI juga diminta oleh beberapa negara, antara lain Australia dan New Zealand, untuk mengawasi dan menentukan kelayakan lembaga-lembaga sertifikasi halal yang ada di negara-negara tersebut. Saat ini MUI juga berperan sebagai lembaga audit sekaligus lembaga fatwa kelayakan lembaga sertifikasi halal internasional.

Dalam pelaksanaannya nanti, kehalalan produk diawasi dengan sistem asuransi halal. Mekanismenya, perusahaan harus membuat kebijakan yang halal, sistem administrasi untuk produk halal, dan standar operasional yang halal. Misalnya bagaimana produsen mengambil pemasok baru, harus ada sistemnya yang mempertimbangkan faktor halal. Sistem ini dilakukan dengan pengawasan, baik oleh LPOM maupun auditor internal perusahaan. Auditor mendapat pelatihan dari LPOM sebelum melaksanakan tugasnya. Dahulu, sebelum ada sistem ini, LPOM melakukan pengawasan hanya dengan inspeksi mendadak. Negara-negara yang memiliki lembaga sertifikasi halal harus dikontrol dan diakui terlebih dahulu oleh MUI, apakah mereka memiliki lembaga audit dan lembaga fatwa halal yang layak. Sementara itu, bagi negara-negara yang belum punya lembaga sertifikasi halal, mereka ikut standar MUI untuk menentukan halal tidaknya produk. Dengan dijadikannya sistem sertifikasi halal di Indonesia sebagai rujukan internasional, MUI juga berencana akan memperketat prosedur sertifikasi halal dalam rangka mengantisipasi berlakunya perdagangan bebas ASEAN-China tahun ini.

Saat ini terdapat sekitar 42 ribu sertifikasi halal yang dikeluarkan LPPOM-MUI dari 800 ribu produk yang beredar di Indonesia. Selain itu, terdapat 33 lembaga sertifikasi halal dari berbagai negara yang bekerja sama dan diakui MUI. Seperti Australia ada 8 lembaga, Amerika ada 6, dan Belanda 2 lembaga. Lembaga sertifikasi di berbagai negara tersebut harus mengikuti standar halal LPPOM-MUI. LPPOM-MUI lebih dahulu harus memastikan sertifikasi halal di negara lain telah sesuai segi isi dan aturan standar halal MUI. Negara lain belum mempunyai lembaga untuk audit dan fatwa. Oleh karena itu, kita berikan asistensi dalam hal audit dan fatwa.

Mengenai isu sertifikasi halal sebaiknya dikeluarkan oleh setiap produsen produk pangan, dan lembaga yang berkompetensi seperti MUI. Pemberian tanda atau logo halal juga harus ditertibkan dan terdapat pengawasan yang menjadi tugas pemerintah. Sistem law enforcement juga harus ditegakkan seperti penertiban terhadap produk yang tidak bertanggung jawab menggunakan logo halal harus ditindak. Sementara itu, Sekjen Asosiasi Perusahaan Produk Halal Indonesia (AAPHI)  menganggap label halal yang diberikan LPPOM-MUI justru memberikan kepastian status kehalalan produk, serta memberikan rasa tenteram dan kepuasan konsumen bila mengonsumsi produk halal. Label halal juga memberikan tambahan benefit keunggulan produk sehingga meningkatkan daya saing dan nilai jual yang dibangun atas dasar syariah dan ilmiah serta dijalankan sebagai amanah.

 

BAB 3

PENUTUP

Sertifikasi halal merupakan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)  yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat islam. Makanan halal merupakan makanan yang diizinkan dikonsumsi menurut hukum Islam. Kriterianya antara lain tidak mengandung babi, anjing, ular, monyet, binatang karnivora dengan cakar dan taring, burung dengan cakar, serta tidak mengandung alkohol. Oleh karena itu dibuatlah sertifikasi halal untuk produk pangan yang bertujuan melindungi konsumen, khususnya umat Muslim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia dari produk pangan yang haram.

Di kawasan yang mayoritas penduduknya non-Muslim seperti Perth, Australia Barat, keberadaan lembaga yang memberikan sertifikasi halal sangat penting bagi Muslim di sana. Untuk itulah, Australian Federation Islamic Council (AFIC) bersama-sama dengan organisasi Islam lainnya, mendirikan lembaga penerbit sertifikasi halal baik untuk rumah makan (restoran) maupun rumah pemotongan hewan (abatoir). Dengan adanya sertifikasi halal itu, warga Muslim Australia tak merasa khawatir lagi untuk mencari rumah makan di seluruh wilayah Australia.

Saat ini terdapat sekitar 42 ribu sertifikasi halal yang dikeluarkan LPPOM-MUI dari 800 ribu produk yang beredar di Indonesia. Selain itu, terdapat 33 lembaga sertifikasi halal dari berbagai negara yang bekerja sama dan diakui MUI. Seperti Australia ada 8 lembaga, Amerika ada 6, dan Belanda 2 lembaga.

Peran LPPOM-MUI saat ini telah diakui secara luas di kancah internasional. Prosedur dan persyaratan yang digunakan untuk menentukan kehalalan produk di Indonesia kini juga menjadi rujukan standar halal di berbagai negara, mulai dari negara-negara ASEAN hingga negara-negara seperti Arab Saudi, Belanda, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada. Tak hanya itu, saat ini MUI juga diminta oleh beberapa negara, antara lain Australia dan New Zealand, untuk mengawasi dan menentukan kelayakan lembaga-lembaga sertifikasi halal yang ada di negara-negara tersebut. Saat ini MUI juga berperan sebagai lembaga audit sekaligus lembaga fatwa kelayakan lembaga sertifikasi halal internasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://indonesiaupdates.blogspot.com

http://mmutp19.wordpress.com/2010/02/06/info-halal/

www.google.com/logo halal australia/

www.kompas.com

www.republika.com

www.korantempo.com

W Hendri, E H Diar. 2008. Etika Farmasi dalam Islam. Yogyakarta : Graha ilmu

Komentar
  1. fita mengatakan:

    salam,,
    izin copy halaman ini,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s