Pharmaceutical Care in Japan

Posted: 23 Oktober 2010 in all about my task

BAB I

PENDAHULUAN

Hampir semua negara, bidang  kefarmasian awalnya merupakan bagian dari ilmu kedokteran. Seiring dengan berjalannnya waktu, peran kefarmasian dipandang sangat penting dalam dunia kesehatan sehingga menuntut profesionalitas kefarmasian. Hal ini membawa dampak pengembangan pendidikan kefarmasian tersendiri, terpisah dari pendidikan kedokteran.  Di Jepang, pendidikan kefarmasian mulai didirikan pada masa Restorasi Meiji, dan hingga sampai saat ini terdapat 17 universitas/ sekolah negeri dan 29 universitas swasta yang mempunyai pendidikan kefarmasian.

Perkembangan pendidikan kefarmasian di Jepang dibagi dalam enam periode sebagai berikut :

1.  Periode Pendirian Pendidikan Kefarmasian (1873-1879).  Pionernya adalah Department of  Manufacturing Pharmacy, Faculty of Medicine, University of Tokyo yang didirikan pada 1873, yang sekarang menjadi Faculty of Pharmaceutical Science, University of Tokyo. Tujuan didirikan departemen tersebut pada saat itu adalah pelatihan profesional untuk mengakomodasi obat-obat import dari negara-negara barat.

2. Periode Pembangunan Pendidikan Kefarmasian (1880-1911). Pada periode tersebut, Perhimpunan Pendidikan Kefarmasian Jepang (The Pharmaceutical Society of Japan for Academic) didirikan pada 1880, dan 13 tahun (1893) kemudian berubah menjadi Asosiasi Kefarmasian Jepang (The Japan Pharmaceutical Association) yang tujuannya untuk pengembangan pendidikan kemudian profesionalitas kefarmasian. Periode 1-2 dilakukan pada era Kekaisaran Meiji (Kaisar Mutsuhito).

3.  Periode Pengembangan Pendidikan Kefarmasian (1912-1944). Periode ini berjalan pada era Kekaisaran Taishou (Kaisar Yoshihito) dan setengah periode dari era Kekaisaran Shouwa (Hirohito). Pada era ini, 17 sekolah farmasi dibangun, dan mempelajari beberapa subjek yaitu :  kimia farmasi, farmakognosi, kimia higienis, dan kimia industri. Sedangkan, farmakologi, bakteriologi dan biokimia belum dipikirkan untuk dipelajari pada era ini. Ini jelas bahwa orientasi pendidikan kefarmasian di Jepang baru pada tahap produksi obat (drug oriented).

4.  Periode Reformasi Sistem Pendidikan Kefarmasian (1945-1960). Setelah Perang Dunia II selesai, sistem pendidikan kefarmasian di Jepang mulai direformasi pada tahun 1949, sebanyak 46 sekolah/ universitas/ departemen kefarmasian dibangun. Lulusan tersebut harus memenuhi persyaratan untuk mendapatkan lisensi farmasis nasional melalui ujian yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang. Pada tahun 1956, departemen kefarmasian di suatu sekolah/universitas berkembang menjadi tiga departemen yaitu : farmasi, farmasi industri dan biologi farmasi.

5.  Periode Perbaikan dan Perkembangan Pendidikan Kefarmasian (1961-1985). Pada periode ini, pendidikan tinggi farmasi terus dikembangkan hingga menjadi 46 sekolah/universitas kefarmasian. Tiap tahunnya, sebanyak 8.000  lulusan dihasilkan dan 60%-nya bekerja di industri farmasi, sisanya bekerja sebagai farmasis (apoteker) di rumah sakit dan apotek. Pada periode ini, orientasi farmasi sudah mulai berkembang ke pelayanan kesehatan (patient oriented).

6.  Pergerakan menuju reformasi pendidikan kefarmasian terkini (1986-skrng). Berdasarkan amandemen hukum pelayanan pengobatan/kesehatan tahun 1986 dan 1992, peran farmasis (apoteker) dan apotek dibuat lebih semakin spesifik dan dibedakan secara jelas antara kedokteran dengan kefarmasian. Pada tahun 1994, Komite Kementerian Kesehatan dan Kesejahteran mengusulkan priode kelulusan seorang sarjana farmasi, yaitu 4 tahun sarjana strata-1 dilanjutkan 2 tahun sarjana strata-2 (M.Sc) atau 6 tahun sistem pendidikan tinggi meliputi praktek kerja di insitusi kesehatan selama periode waktu 6 bulan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pelayanan Kefarmasian di Jepang

Pelayanan kefarmasian di Jepang yaitu terhadap pasien langsung ditangani oleh apoteker. Di Jepang tidak ada tenaga teknisi atau asisten apoteker sehingga segala proses dispensing obat dilakukan oleh apoteker. Kalaupun ada tenaga selain apoteker atau non apoteker, terbatas hanya satu orang tenaga kasir. Proses pelayanannya sebagai berikut :

A)   Penerimaan resep oleh apoteker.

B)   Mengisi formulir yang berisi tentang data-data pasien yang terkait dengan obat seperti  riwayat alergi dan sebagainya. Informasi yang diberikan  dalam bahasa Jepang.

rbuat dari plastik. Informasi yang ada pada etiket tersebut juga sama dengan di Indonesia. Bedanya pada etiket obat di Jepang juga dicantumkan gambar C)   Proses penyiapan obat di dalam ruang peracikan obat.

D)  Penyerahan obat ke pasien. Obat diserahkan dalam etiket yang sama seperti di Indonesia. Bedanya etiket terbuat dari kertas sedangkan di Indonesia tedari obat yang ada di dalamnya. Jadi kesalahan akibat tertukarnya obat menjadi lebih kecil.

E)  Apoteker memberikan informasi tentang nama obat, khasiat dan aturan pakai sambil memperlihatkan obat tersebut pada pasien.

F)    Proses pembayaran.

Hal baru yang mungkin belum ada di Indonesia adalah ketika pasien menerima obat, mereka juga diberikan satu lembar kertas yang berisi tentang informasi obat yang akan digunakan oleh pasien. Informasi tersebut dimuat dalam kolom-kolom yang berisi nama obat, gambar obat ( bewarna ), khasiat dari obat ( efek ), aturan pemakaian, interaksi obat dengan obat/ bahan lain serta kolom yang digunakan untuk memuat catatan khusus dari apoteker. Lembaran ini berupa hasil print out komputer yang sudah terprogram

Pelayanan kefarmasian di Jepang juga sudah mulai beranjak menuju patien-oriented. Mulai sejak 3-4 tahun yang lalu, pasien diberi konseling pada saat masuk dan pada saat di rumah sakit. Karena keterbatasan jumlah apoteker dan juga pertimbangan uang jasa pelayanan kefarmasian, konseling dan sekaligus pemantauan terapi pasien dilakukan sekali seminggu untuk tiap pasien. Jadi jika pasien dirawat selama 3 minggu, dia akan mendapat 3 kali konseling. Namun, ada juga yang mendapat pemantauan setiap hari, terutama pada pasien-pasien yang mendapatkan antibiotik khusus seperti anti MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus), quinolon yang baru, golongan penem, dan anti fungi. Mereka akan memantau dari hasil pemeriksaan lab pasien, dan jika diperlukan mendatangi pasien untuk menanyakan efek-efek samping yang mungkin dialami pasien. Dalam hal pelayanan informasi obat, farmasis menyiapkan data base lengkap mengenai obat-obat yang dipakai di rumah sakit (sekitar 2000 item yang dipilih), sehingga dokter dengan mudah dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan mengklik di komputernya masing-masing jika misalnya akan menulis resep. Jika diperlukan, mereka akan menanyakan pada apoteker

2.2    Program-program dari Pemerintah

Selain pihak yang terkait dengan tempat-tempat yang berkaitan dengan kesehatan dan obat-obatan seperti apotek dan rumah sakit, pemerintah juga perlu ikut campur tangan dalam urusan-urusan tersebut. Pemerintah bisa mempersiapkan dan membuat program-program yang bisa memajukan dan membuat pasien nyaman dengan pelayanan yang diberikan. Tentunya, program-program seperti itu harus didukung dan dijalankan semaksimal mungkin.

Contohnya yang diterapkan di rumah sakit. Rumah sakit diseluruh Jepang telah bersiap menghadapi kemungkinan merebaknya flu babi dengan membuat bagian khusus untuk memeriksa orang yang diduga terinfeksi flu babi.

Pemerintah Metropolitan Tokyo telah meminta 60 rumah sakit untuk membentuk bagian khusus guna mengantisipasi penyebaran penyakit ini. Nantinya tiap rumah sakit akan mempersiapkan ruangan yang disiapkan khusus bagi pemeriksaan kesehatan terkait flu babi.

Pemerintah Metropolitan Tokyo mulai mendistribusikan pakaian pelindung dan  pelindung wajah kepada para staf kesehatan serta membagikan tamiflu kepada rumah sakit yang menyediakan bagian khusus untuk perawatan flu babi.

Pemerintah Metropolitan Tokyo menyatakan tidak akan mengungkapkan nama rumah sakit yang menyediakan bagian khusus itu guna menghindari kesalahpahaman. Namun, pejabat terkait menyatakan saat seseorang merasa dirinya terinfeksi flu babi, sebaiknya mereka menelpon pusat kesehatan masyarakat dan tidak terburu-buru pergi ke rumah sakit karena pusat kesehatan masyarakat akan memutuskan apakah si penelpon harus diperiksa dokter dan memberikan informasi rumah sakit yang memiliki bagian khusus pemeriksaan flu babi.

Menurut Pemerintah Metropolitan Tokyo, orang yang berpotensi terinfeksi flu babi bila mereka terkena demam tinggi diatas 38 derajat celcius dalam 10 hari setelah kembali dari Meksiko atau negara yang sebelumnya telah terkena wabah flu babi.

Kementerian Luar Negeri Jepang telah meluncurkan layanan konsultasi flu babi di dalam bahasa Inggris dan Jepang. Sementara Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan akan membuat layanan konsultasi khusus dalam bahasa Jepang.

2.3    Rumah Sakit dan Apotek di Jepang

Negara Jepang adalah salah satu negara yang memiliki perkembangan kemajuan yang sangat pesat. Tentunya juga dalam bidang kesehatan dan obat-obatan. Pastinya sebagai salah satu negara yang maju dengan kecanggihan teknologinya, Jepang memiliki rumah sakit dan apotek-apotek yang berstandar internasional dengan pelayanan yang memuaskan.

Contoh rumah sakit yang ada di Jepang adalah Ehime University Hospital. Di Ehime Univ Hospital, pengelolaan perbekalan farmasi sangat dibantu oleh adanya sistem teknologi informasi yang canggih. Semua bagian di rumah sakit terhubung dengan jaringan intranet, sehingga sangat memudahkan komunikasi. Salah satunya adalah mesin penyiapan sediaan injeksi secara otomatis (automatic ampule dispenser). Jadi, jika dokter meresepkan satu bentuk injeksi tertentu, ia akan menuliskan di komputer, dan informasi itu segera sampai di mesin automatis tadi dan menyiapkan obat yang diminta, dalam bentuk satu unit dosis. Farmasis tinggal mengecek kebenarannya sesuai dengan resep. Menurut Prof. Hiroaki Araki, Director of Hospital Pharmacy, Ehime University Hospital, tidak semua rumah sakit memiliki mesin semacam itu, karena beliau mengembangkan sendiri mesin tersebut. Lalu setelah semua sediaan injeksi siap, mereka akan mengirimkannya ke bangsal (ward) di mana pasien berada.

Keberadaan nurse yang mengambil atau asisten apoteker di rumah sakit ini  yang mengantar ke bangsal tidak ada. Obat-obat tadi diantar dengan semacam keranjang yang dijalankan dengan semacam ban berjalan. Lalu secara computerized akan diset kemana keranjang tadi harus diantarkan, baru di sana nurse akan menerima dan membagikannya sesuai dengan nama pasien. Keranjang yang sudah kosong akan dikembalikan lagi ke farmasi menggunakan ban berjalan yang sama. Tetapi, sistem ini pun tidak semua rumah sakit memilikinya. Sebagian masih dilakukan secara manual. Di Ehime Univ Hospital, dengan jumlah bed sekitar 600 bed, jumlah farmasisnya adalah 27 orang plus 2 orang Director and Vice Director of Hospital Pharmacy.

Therapeutic Drug Monitoring

Salah satu pelayanan farmasi yang masih sulit dilakukan di Indonesia karena keterbatasan biaya dan alatnya adalah Therapeutic Drug Monitoring (TDM). TDM di rumah sakit ini dilakukan atas dasar permintaan dokter. Selain itu, farmasis juga dapat mengusulkan dilakukannya TDM jika mereka memandang perlu adanya pemantauan kadar obat dalam darah untuk pasien tertentu. Tentu tidak semua obat di-TDMkan. Di rumah sakit ini beberapa obat yang hampir selalu mendapatkan pemantauan melalui TDM adalah tacrolimus, siklosporin, anti epileptic drug dan anti MRSA drug. Dari sini hasilnya akan dilaporkan kepada dokter dan digunakan menjadi dasar adjusment dosis pada terapi. Alat untuk TDM di rumah sakit ini sudah canggih. Alat TDX yang lama sudah tidak digunakan lagi. Sekarang mereka menggunakan mesin khusus dengan metode chemiluminescence assay, di mana pemeriksaan jadi lebih sensitif dan cepat dan pemeriksaannya cepat. Dokter juga umumnya meminta hasil yang cepat, jadi mereka bisa memberikan hasil TDM pasien dalam waktu 30 menit – 1 jam setelah sampel dikirim ke farmasi.

Lain lagi di Rumah Sakit Aizu Central Hospital. Di Aizu Central Hospital, kota Aizu-Wakamatsu 200 km sebelah utara Tokyo, Jepang, baru-baru ini membeli 3 robot produksi termasuk Jepang, salah satu diantaranya bertugas melayani tamu, dan dua robot lainnya bertugas sebagai pengangkut, ini adalah kali pertama rumah sakit di Jepang merekrut “pegawai” robot. Bagian kepala robot ini berbentuk elips, badannya dikombinasi dengan warna hijau dan putih, warna yang sangat menyilaukan, di bagian tengah badan terdapat alat pengeras suara, dapat berjalan bebas, bisa melayani tamu dan mengangkut barang.

Selain rumah sakit Jepang juga memiliki apotek-apotek yang bisa dibilang hampir sama dengan kebanyakan apotek di Indonesia. Apotek-apotek di Jepang juga memiliki fasilitas yang tidak kalah dengan rumah sakitnya seperti yang ada di salah satu apotek yang ada di Jepang ini. Apotek ini memiliki ruangan yang kira-kira sama dengan ruangan yang ada di Indonesia. Ruangannya terdiri dari Counter Self Medication, Counter Kasir, dan ruangan peracikan obat.

A)  Counter Self Medication terdiri dari beberapa rak yang berisi produk-produk yang dijual dengan sistem swalayan dan etalase yang berisi produk dengan sistem nonswalayan. Produk yang dijual berbahasa Jepang. Produk yang tersedia seperti kebutuhan bayi  (susu, pampers, dot, bedak, dll ), aneka jenis salep dan krim, koyok, beberapa jenis obat tablet seperti aspirin dan lain sebagainya. Kondisinya sepertinya mirip dengan apotek-apotek di Indonesia yang memiliki counter swalayan seperti Kimia Farma.

B)  Di Counter Self Medication ini ada meja konsultasi dengan seorang farmasis / apoteker yang siap memberikan pelayanannya.

C) Counter kasir berupa space tempat kegiatan penerimaan resep, pembayaran dan penyerahan obat dilakukan oleh petugas apotek. Proses pembayaran dilakukan ketika obat akan diberikan ke pasien.

D)   Di belakang counter kasir terdapat ruangan peracikan yang dibatasi oleh kaca transparan. Pasien bisa melihat secara langsung kegiatan yang terjadi di dalam ruangan peracikan. Ada sekitar 5 orang apoteker yang sedang bertugas dengan mengenakan jas kerja (seperti jas laboratorium yang bewarna putih ) dengan mengenakan masker.

E)   Ruangannya sangat nyaman, bersih dengan tempat duduk yang empuk.

2.4   Pengobatan Tradisional dan Alternatif

A. Pengobatan Tradisional

Pengobatan tradisional Tiongkok, ayurveda dari India, dan jamu dari Indonesia sudah sering kita dengar. Tapi, belum banyak orang yang mendengar Kampo Medicine, yaitu pengobatan tradisional Jepang yang sejak abad ke-20 mengalami perubahan konsep agar dapat digunakan secara berdampingan dengan sistem pengobatan modern yang maju pesat.

Praktek integrasi pengobatan modern dan tradisional Kampo dilaksanakan di sebuah rumah sakit modern di Jepang, yaitu Toyama Medical and Pharmaceutical University. Integrasi itu berdasar kebijakan pemerintah Jepang untuk melestarikan penggunaan sistem pengobatan tradisional mereka, terutama sejak sistem tersebut diterima di masyarakat.

Saat ini Toyama Medical and Pharmaceutical University sudah punya Departemen Pengobatan Kampo (Department of Japanese-Oriental Medicine), yang rata-rata dikunjungi 90 pasien setiap hari. Secara umum, pasien terbagi ke dalam dua kelompok yaitu, penderita penyakit yang sudah tidak ada obat modern yang efektif terhadapnya dan kelompok yang kesulitan menggunakan obat modern.

Rasa tidak enak di daerah dada yang sulit dilacak penyebabnya, penurunan berat badan yang tidak dapat dipastikan penyebabnya, sirosis hati, gagal ginjal kronis, dan kerusakan paru-paru kronis adalah contoh gangguan kesehatan yang sulit dicarikan pengobatan modern yang efektif. Hipersensitivitas dan efek samping obat, gangguan kesehatan yang sangat kompleks sehingga pengobatan untuk satu organ akan mengganggu organ lain, hilangnya kepercayaan terhadap obat modern, serta kelainan yang berhubungan dengan bodi dan spirit adalah contoh gangguan kesehatan yang dialami orang yang kesulitan menggunakan obat modern.

Pada pelayanan kesehatan primer, saat ini Kampo Medicine memegang peran penting. Selain itu, obat kampo digunakan untuk pengobatan penunjang pada kasus-kasus lifestyle relating diseases, seperti hipertensi, flu, sakit kepala, artritis, neuralgia, asma bronkial, hepatitis kronis, diabetes melitus, dan gangguan ginjal.

Di antara lebih kurang 260.000 dokter di Jepang, hanya 3.500 orang yang punya spesialisasi pengobatan Kampo. Mereka yang sudah memiliki keahlian itu memang menggunakan Kampo sebagai obat utama pada praktik sehari-hari. Sementara itu, dokter lain hanya menggunakannya dalam situasi yang sangat mendesak, seperti hepatitis kronis.

Sampai saat ini, hanya Toyama Medical and Pharmaceutical University yang memasukkan mata ajaran Kampo Medicine ke dalam sistem pendidikan mereka. Hal tersebut dipandang perlu, mengingat praktek pengobatan Kampo hanya dapat dilakukan secara optimal melalui pemahaman yang sangat dalam terhadap konsep dasarnya.

Dokter yang tidak mendapatkan pelajaran Kampo bisa mengambil kursus yang khusus diadakan oleh ahli kampo yang memperoleh pengetahuan itu secara turun-temurun. Praktek pendidikan seperti itu memang berbeda dengan sistem pendidikan kedokteran di Tiongkok dan Korea, di mana pendidikan untuk dokter pengobatan tradisional dan pengobatan Barat diadakan di sekolah yang berbeda. Jadi, di Tiongkok dan Korea dijumpai dokter khusus obat tradisional dan dokter obat modern.

B. Pengobatan Alternatif

Selama 20 tahun terakhir, penduduk Jepang mampu mengobati pasien kanker dengan menggunakan metode ini. Mereka menggunakan sistem imun yang akan memperbaiki kondisi sistem kekebalan dan akan kemudian melindungi pasien terhadap kemungkinan komplikasi dan infeksi setelah perawatan lainnya.

Di Jepang juga terdapat beberapa klinik terapi urin. Dr. S. Arai, peneliti terapi urin dan manajer Fujisaki Institute di Hayashibara Biochemical Laboratories telah membuktikan bahwa urin dapat menyembuhkan penyakit kronis seperti kanker dan hepatitis. Menurutnya, dewasa ini diperkirakan terdapat sekitar dua juta peminum auto urin di Jepang. Begitu pula di Cina, Taiwan dan Amerika Serikat, kebiasaan meminum air seni sudah memasyarakat. Bahkan di Cina, sekitar 3 juta orang meminum urinnya sendiri, sementara di Jerman sekitar 5 juta orang sudah mempraktekkannya.Urin mengandung mineral, vitamin, enzim, energy, asam amino, energyc, antigen, allergen, garam dan energyc lainnya. Sejauh ini, ada sepuluh hipotesa cara kerja terapi auto urin.

1.  Pertama, penyerapan dan penggunaan kembali energyc.

2. Kedua, penyerapan kembali energy. Misalnya, kortikosteroid yang dapat mencegah infeksi, rematik dan asma. Atau, melationin sebagai obat penenang dan anti kanker.

3.  Ketiga, penyerapan kembali enzim.

4.  Keempat, penyerapan kembali urea. Urin mengandung 25-30 gram urea per hari.

5.  Kelima, energi efek kekebalan.

6.  Keenam, energi efek bakterisida dan virusida.

7. Ketujuh, sebagai terapi garam yang berguna untuk memperlancar energycm, menyingkirkan kelebihan gula darah, dan mengeluarkan zat-zat toksik dari cairan dan jaringan tubuh.

8. Kedelapan, energi efek diuretika, yakni untuk menstimuler ginjal, meningkatkan produksi air seni, membersihkan ginjal serta ‘mencuci’ gula darah dan zat-zat toksik.

9. Kesembilan, sebagai gambar hologram. Biofeedback-nya memberikan gambaran keadaan tubuh. Meminum urin akan mengoreksi dan memulihkan keseimbangan fisiologi tubuh yang terganggu penyakit.

10. Kesepuluh, energi efek psikologis. Terapi ini dianggap sebagai penyembuhan dari dalam tubuh secara mekanistik dan holistik pada tingkat energi.

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1  Kesimpulan

  • Perkembangan pendidikan kefarmasian di Jepang mengalami enam periode
  • Pelayanan kefarmasian di Jepang terhadap pasien langsung ditangani oleh apoteker dan tidak mengenal istilah asisten apoteker.
  • · Therapeutic Drug Monitoring (TDM) adalah salah satu pelayanan kefarmasian yang berkembang di Jepang dan sulit diterapkan di Indonesia.
  • · Pemerintah Jepang memiliki program-program dalam mendukung pelayanan kefarmasian di Jepang.
  • · Contoh pengobatan tradisional di Jepang adalah Kampo Medicine dan contoh pengobatan alternatifnya adalah dengan menggunakan metide sistem imun.

3.2  Saran

  • Indonesia bisa menerapkan pelayanan kefarmasian yang ada di Jepang yaitu penanganan pasien langsung ke apoteker.
  • · Indonesia bisa menerapkan Therapeutic Drug Monitoring (TDM) yaitu pemantauan kadar obat dalam darah.
  • · Indonesia bisa mengadopsi cara penyembuhan penyakit, baik tradisional maupun alternatif dari negara Jepang.

DAFTAR PUSTAKA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s