PENGARUH PH DAN INHIBITOR TERHADAP AKTIVITAS ENZIM

Posted: 11 Oktober 2012 in all about my task

Tujuan
Dapat memahami pengaruh pH dan inhibitor terhadap aktivitas enzim.

Teori Dasar
Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu :
pH
Suhu / Temperatur
Konsentrasi substrat
Konsentrasi enzim
Konsentrasi produk reaksi
Konsentrasi garam inorganik
Aktivator
Inhibitor
Faktor-faktor tersebut harus dikendalikan dengan sangat baik untuk menghasilkan hasil yang optimal. Enzim memiliki pH optimum yang khas, yaitu pH yang mengakibatkan aktivitas kerja enzim maksimal. pH optimum enzim dengan pH optimum lingkungan normalnya tidak perlu sama, pH optimum enzim dapat berada di atas atau di bawah pH optimum lingkungan normal. Perubahan pada pH medium lingkungan dapat mengatur aktivitas katalitik enzim di dalam sel. Konsentrasi substrat juga mempengaruhi reaksi yang dikatalisis oleh enzim, molekul substrat yang berikatan dengan bagian aktif enzim melalui mekanisme khas dan selektif dalam hubungan disebut metode kunci dan gembok (lock and key methode).

Jika konsentrasi substrat sangat sedikit, maka kecepatan reaksi pun akan lambat dan kecepatan reaksi ini akan meningkat seiring bertambahnya konsentrasi substrat dengan nilai yang semakin kecil hingga akhirnya tercapai titik batas disebut kecepatan maksimum (Vmaks). Pada keadaan ini enzim menjadi jenuh oleh substratnya dan tidak dapat berfungsi lebih cepat. Hampir semua enzim dapat dihambat (diinhibisi) oleh senyawa kimia tertentu.

Senyawa penghambat enzim juga berguna dalam metabolisme sel, contohnya beberapa obat dalam kefarmasian bekerja dengan mekanisme penghambatan enzim-enzim tertentu yang mengganggu kerja sel. Prinsip biologis utamanya adalah homeostatis, yaitu keadaan dalam tubuh yang selalu mempertahankan keadaan normalnya. Perubahan relatif kecil saja dapat mempengaruhi aktivitas banyak enzim. Adanya inhibitor non-kompetitif irreversibel dan antiseptik dapat menurunkan aktivitas enzim. Penghambat enzim dibagi berdasarkan :

Berdasarkan Sifat Kinetiknya:
Inhibitor Kompetitif
Inhibitor bersaing dengan substrat untuk terikat pada sisi aktif. Biasanya inhibitor berupa senyawa yang menyerupai substratnya, dan mengikat enzim membentuk komplek EI.

Karena terikat secara reversible, penghambatannya bias, yaitu ketika ditambah substrat maka penghambatan berkurang. Inhibitor kompetitif hanya dapat mengikat enzim bebas tetapi tidak dapat mengikat kompleks enzim substrat, contohnya sulfanilamide (strukturnya mirip PABA, inhibitor dihidropteroat sintetase), fisosstigmin (mirip asetilkolin, inhibitor asetilkolinesterase), dan asetazolamide (inhibitor enzim anhidrase asam karbonat). Mekanisme hambatan :
Inhibitor analog substrat : inhibitor memiliki struktur yang mirip dengan substrat, sehingga dapat terikat pada active site.
Steric hindrance inhibitor : inhibitor tidak terikat pada active site, teta.pi dapat menghalangi substrat terikat pada active site karena terjadi halangan sterik

Inhibitor Non-kompetitif
Inhibitor Non-kompetitif Reversible
Dapat berikatan dengan enzim bebas maupun kompleks enzim substrat, terikat pada tempat berbeda dengan pengikat substrat, dan dapat menurunkan kadar enzim yang aktif. Contohnya : Ag+,Pb2+.
Inhibitor Non-kompetitif Irreversible
Berikatan dengan enzim secara irreversible, merubah konformasi enzim (active site) sehingga enzim menjadi inaktif. Contohnya : Hg2+, Ag2+, dan Ba2+.

Berdasarkan Sifat Ikatan Enzim-Inhibitor
Inhibitor Irreversible
Suatu zat yang menghambat kerja enzim dengan cara berikatan dengan enzim tetapi bukan pada sisi aktifnya, karena inhibitor tidak memiliki kesamaan dengan struktur substrat, maka peningkatan konsentrasi substrat umumnya tidak menghilangkan inhibitor tersebut. Banyak racun yang bekerja sebagai inhibitor non-kompetitif irreversibel terhadap aktivitas enzim, antara lain ion logam berat, iodosetamida, dan zat-zat pengoksidatif. Biasanya berlangsung dalam proses destruksi atau modifikasi gugus fungsi dalam molekul enzim.

Inhibitor Reversible
Suatu senyawa yang dapat terikat dan kemudian dapat lepas kembali. Dapat ditentukan secara kuantitatif menggunakan persamaan kinetik Michaelis-Menten.

Inhibitor Unkompetitif
Terikat pada sisi selain sisi aktif enzim, inhibitor ini hanya terikat pada ES kompleks sehingga tidak terikat pada enzim bebas.

Vmax berubah, dan Km juga berubah.

Saliva adalah suatu cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral, disebut juga kelenjar ludah atau kelenjar air liur yang diproduksi oleh submaxiliary, sublingual, dan kelenjar paratoid. Semua kelenjar ludah mempunyai fungsi untuk membantu mencerna makanan dengan mengeluarkan suatu sekret yang disebut “salivia” (ludah atau air liur). Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal kehidupan fetus (4 – 12 minggu) sebagai invaginasi epitel mulut yang akan berdiferensiasi ke dalam duktus dan jaringan asinar. Saliva terdapat sebagai lapisan setebal 0,1-0,01 mm yang melapisi seluruh jaringan rongga mulut. Pengeluaran air ludah pada orang dewasa berkisar antara 0,3-0,4 ml/menit sedangkan apabila distimulasi, banyaknya air ludah normal adalah 1-2 ml/menit. Menurunnya pH air ludah (kapasitas dapar / asam) dan jumlah air ludah yang kurang menunjukkan adanya resiko terjadinya karies yang tinggi serta meningkatnya pH air ludah (basa) akan mengakibatkan pembentukan karang gigi. Ludah diproduksi secara berkala dan susunannya sangat tergantung pada umur, jenis kelamin, makanan saat itu, intensitas dan lamanya rangsangan, kondisi biologis, penyakit tertentu dan obat-obatan. Manusia memproduksi sebanyak 1000-1500 cc air ludah dalam 24 jam, yang umumnya terdiri dari 99,5% air dan 0,5 % lagi terdiri dari garam-garam , zat organik dan zat anorganik. Unsur-unsur organik yang menyusun saliva antara lain : protein, lipida, glukosa, asam amino, amoniak, vitamin, asam lemak. Unsur-unsur anorganik yang menyusun saliva antara lain : Sodium, Kalsium, Magnesium, Bikarbonat, Khloride, Rodanida dan Thiocynate (CNS) , Fosfat, Potassium. Yang memiliki konsentrasi paling tinggi dalam saliva adalah kalsium dan Natrium. Di dalam saliva terdapat enzim ptialin (salivary amylase) yang berfungsi untuk membantu pencernaan karbohidrat. Karbohidrat atau tepung (amilum) sudah mulai dipecah sebagian kecil dalam mulut menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya. Enzim ptyalin dapat mengkatalisis hidrolisis ikatan 1,4-glikosidik dari amylose dan amilopektin menjadi sakarida yang sederhana dan dekstrin. Enzim ptyalin biasanya bekerja pada pH antara 7-7,4, enzim dapat pula mengalami perubahan bentuk bila pH bervariasi. Gugus yang bermuatan yang jauh dari daerah terikat substrat diperlukan untuk mempertahankan struktur tersier-kuartener yang aktif. Dengan perubahan muatan pada gugus ini maka protein dapat terbuka sehingga aktivitasnya berubah. Kecepatan awal suatu reaksi merupakan kecepatan yang diukur sebelum terbentuk produk yang cukup untuk memungkinkan suatu reaksi, kecepatan awal suatu reaksi yang dikatalisis enzim harus sebanding dengan konsentrasi enzim. Untuk menentukan kecepatan reaksi, sebenarnya pengaruh konsentrasi substratlah yang sangat berarti. Namun, konsentrasi substrat yang menunjukkan kecepatan maksimal aktivitas enzim akan mencerminkan jumlah enzim aktif yang ada.
Alat dan Bahan
Alat
Stopwatch
Water bath 38 ℃
Tabung reaksi
Pipet ukur 1 ml, 5 ml, dan 10 ml
Pipet tetes
Batang pengaduk
Penangas air
Botol semprot

Bahan
Larutan Buffer pH : 8; 7,4; 6,8; 6; dan 5,2
Larutan Amilum 1%
Larutan Natrium klorida (NaCl) 0,1 M
Larutan Saliva (1:9)
Larutan Iodine 0,01 M
Larutan Toluen
Larutan Merkuri klorat (HgCl2)1%
Kloroform
Larutan Phenol 2%
Natrium florida (NaF) 0,5 gr
Pereaksi Benedict
Aquadest

Prosedur Percobaan
Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
Tabung reaksi 10 ml Larutan Buffer pH : 8; 7,4; 6,8; 6; dan 5,2

⊕ 5 ml Larutan Amilum 1%

⊕ 2 ml Larutan Natrium klorida (NaCl) 0,1 M

⊕ 2 ml Larutan Saliva (1:9)

Dimasukkan dalam water bath 38 ℃ selama 10 menit

⊕ Larutan Iodine secukupnya sedikit demi sedikit sampai terjadi perubahan warna

Perubahan diamati dan dicatat

Nb : Tabung dengan pH 8 dan 7,4 diasamkan terlebih dahulu dengan menggunakan asam asetat (CH3COOH) sedikit demi sedikit sebelum ditambahkan Larutan Iodine.
Pengaruh Inhibitor Terhadap Aktivitas Enzim
2 ml Larutan Saliva + 8 ml Aquadest

⊕ 1 ml Larutan Saliva yang telah diencerkan dimasukkan ke 6 tabung reaksi yang berbeda

Pada tabung yang terpisah :
Tabung 1 : ⊕ 5 tetes Larutan Toluen
Tabung 2 : ⊕ 5 tetes Kloroform
Tabung 3 : ⊕ 5 tetes Larutan Merkuri klorida 1%
Tabung 4 : ⊕ 5 tetes Larutan Phenol 2%
Tabung 5 : ⊕ 0,5 gr Natrium fluoride
Tabung 6 : ⊕ 5 tetes Aquadest

Diamkan pada rak tabung selama 10 menit, sesekali digojog perlahan-lahan

⊕ 5 ml Larutan amilum 1%

Dimasukkan dalam water bath 38℃ selama 15 menit

Masing-masing tabung dibagi dua bagian untuk dilakukan penambahan Larutan Iodine dan tes Benedict.

Perubahan diamati dan dicatat

Uji Kuantitatif Enzim Ptyalin
2 ml NaCl 0,1 M + 10 ml Larutan amilum 1%

Penangas air 38 ℃

⊕ Larutan Saliva (1:9), diamkan selama 30 detik (Larutan A)

8 tabung Larutan berisi 3 ml Aquadest + 3 tetes Larutan Iodine 0,01 M disiapkan

Tabung 1 : ⊕ 2 tetes larutan A

Perubahan warna diamati dan dicatat mulai dari penetesan sampai terjadi perubahan warna larutan (Titik akromik)

Tabung 2 : ⊕ 1 tetes Aquadest + 2 tetes Larutan A

Waktu dicatat hingga terjadi perubahan

Tabung 3 : ⊕ 2 tetes Aquadest + 2 tetes Larutan A

Waktunya dicatat

Pengenceran dilakukan bertahap pada Tabung 4 sampai 8 hingga terjadi perubahan, waktu yang dibutuhkan untuk tercapainya perubahan warna sama dengan 4 menit.

Jika 1 unit amylase dianggap setara dengan 10 ml Larutan amylum 1% yang mampu terdigesi pada titik akromik (4 menit). Tentukan unit amylase yang terkandung dalam sampel Larutan Saliva.

Data Pengamatan
Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
Amilum : berwarna putih keruh ; Buffer dan NaCl : berwarna bening ; Saliva : berwarna putih keruh dan berbusa.
Larutan buffer (pH 8; 7,4; 6,8; 6; dan 5,2) + amilum 1% 5 ml + NaCl 0,1 M 2 ml + saliva (1:9) semua larutan buffer pH berbeda berubah berwarna putih keruh dan ada endapan. Setelah dimasukkan ke dalam water bath tidak ada perubahan yang terjadi.
Penambahan 1 tetes iodine :
Tabung pH 8 : larutan berwarna ungu pekat
Tabung pH 7,4 : larutan berwarna ungu pekat
Tabung pH 6,8 : larutan berwarna ungu pekat
Tabung pH 6 : larutan berwarna ungu
Tabung pH 5,2 : larutan berwarna ungu

Penambahan 25 tetes iodine :
Tabung pH 8 : larutan berwarna ungu agak pekat
Tabung pH 7,4 : larutan berwarna ungu muda
Tabung pH 6,8 : larutan berwarna ungu pekat
Tabung pH 6 : larutan berwarna ungu pekat
Tabung pH 5,2 : larutan berwarna ungu

Penambahan 30 tetes iodine :
Tabung pH 8 : larutan berwarna ungu agak pekat, ada endapan yang cukup terlihat.
Tabung pH 7,4 : larutan berwarna ungu bening, ada endapan yang terlihat jelas.
Tabung pH 6,8 : larutan berwarna ungu pekat, ada endapan yang tidak terlihat jelas.
Tabung pH 6 : larutan berwarna ungu pekat, ada endapan yang tidak terlihat jelas.
Tabung pH 5,2 : larutan berwarna ungu, ada endapan yang terlihat cukup jelas.
Pengaruh Inhibitor Terhadap Aktivitas Enzim
NaF ditimbang dahulu = 0,5180 gr, berupa serbuk putih.
Sampai sebelum dan sesudah di water bath, larutan berwarna putih agak keruh.

Penambahan Benedict : semua larutan berubah menjadi warna biru muda agak sedikit keruh.

Setelah dipanaskan pada suhu 205 ℃ :
Toluene : tidak terjadi perubahan, hanya saja larutan warnya bertambah sedikit lebih biru.
Kloroform : larutan berubah menjadi hijau, lama-lama menjadi orange bercampur biru.
Merkuri : tidak terjadi perubahan, hanya saja larutan warnya bertambah sedikit lebih biru.
Phenol : tidak terjadi perubahan, hanya saja larutan warnya bertambah sedikit lebih biru, dan terdapat sedikit endapan berwarna orange.
Fluoride : larutan berwarna biru agak sedikit hijau kekuningan.
Aquadest : tidak terjadi perubahan, hanya saja larutan warnya bertambah sedikit lebih biru.
Penambahan iodine :

Dari kiri : toluene, kloroform, merkuri klorida, phenol, fluoride, dan aquadest.

Tabung Toluene : larutan berwarna ungu bening, di atas permukaan tabung terbentuk cincin ungu, di bawah permukaan tabung ada endapan berwarna ungu kehitaman dan diatas endapan terdapat warna kuning.

Tabung Kloroform : larutan berwarna ungu kehitaman bening, ada endapan di bawah permukaan tabung berwarna ungu kehitaman dan diatasnya terdapat warna kuning.

Tabung Merkuri klorida : larutan berwarna orange pucat keruh, diatas permukaan tabung terdapat cincin berwarna ungu kehitaman, dan ada endapan di bawah permukaan tabung berwarna ungu kehitaman.

Tabung Phenol: larutan berwarna hijau kekuningan bening, ada endapan di bawah permukaan tabung berwarna ungu kehitaman, dan diatas permukaan tabung terdapat cincin berwarna hitam.

Tabung Fluorida : pada permukaan tabung terdapat cincin berwarna ungu kehitaman dan di bawah cincin larutan berwarna kuning. Pada tengah tabung permukaan larutan berwarna ungu, dan di dasar tabung larutan berwarna putih keruh.

Tabung Aquadest : larutan berwarna ungu muda keruh, diatas permukaan tabung terdapat cincin ungu kehitaman, dan ada endapan di bawah permukaan tabung berwarna ungu kehitaman.

Uji Kuantitatif Enzim Ptyalin
2 ml NaCl 0,1 M + 10 ml amilum 1% setelah di taruh pada penangas air larutan menjadi berwarna putih keruh.
Tabung 1 : waktu 2:18 larutan berwarna bening (titik akromik).
Tabung 2 : waktu 1:15
Tabung 3 : waktu 1:07
Tabung 4 : 43 detik, 3 tetes aquadest
Tabung 5 : 36 detik, 4 tetes aquadest
Tabung 6 : 34 detik, 5 tetes aquadest
Tabung 7 : 21 detik, 6 tetes aquadest
Tabung 8: 20 detik, 7 tetea aquadest
Semakin banyak aquadest di tambah, maka semakin cepat mencapai titk akromik.

Perhitungan
Dimisalkan :
4 menit ~ 1 unit amylase ~ 10 ml amilum
10:15 ~ 2,56 unit ~ 2 ml
615/240 x 1 unit = 2,56 unit
615 : dari 10:15 menit diubah semuanya menjadi satuan detik.
240 : dari 4 menit diubah semuanya menjadi satuan detik.

Pada percobaan ketiga, didapat :
Tabung 1 : 2:18
= 138/240 x 1 unit = 0,575 unit
Tabung 2 : 1:15
= 75/240 x 1 unit = 0,3125 unit
Tabung 3 : 1:07
= 67/240 x 1 unit = 0,279 unit
Tabung 4 : 43 detik
= 43/240 x 1 unit = 0,179 unit
Tabung 5 : 36 detik
= 36/240 x 1 unit = 0,15 unit
Tabung 6 : 34 detik
= 34/240 x 1unit = 0,141 unit
Tabung 7 : 21 detik
= 21/240 x 1 unit = 0,0875 unit
Tabung 8: 20 detik
= 20/240 x 1 unit = 0,083 unit
Tabung V Unit Amilase
1 138 0,575
2 75 0,3125
3 67 0,279
4 43 0,179
5 36 0,15
6 34 0,141
7 21 0,0875
8 20 0,083

Grafik ada pada lembar terpisah

Pembahasan
Pada percobaan pertama, enzim dapat bekerja pada pH tertentu. Enzim yang digunakan adalah enzim amylase yaitu enzim ptyalin. Enzim amylase bekerja pada pH 6-7, sedangkan enzim ptyalin bekerja pada pH 7-7,4 dapat menghidrolisis karbohidrat menjadi sakarida (disakarida) dan dekstrin serta dapat terus memecah sampai senyawanya sederhana di dalam proses pencernaan.
Sampel yang digunakan yaitu saliva, saliva tidak bisa bereaksi pada pH 8 atau keadaan asam karena saliva bekerja optimal pada pH 7 sehingga pada percobaan pertama tabung reaksi yang berisikan pH 8-7,4 dilakukan penambahan asam asetat untuk diasamkan agar aktivitas enzim dapat meningkat. Tetapi jika terlalu asam (terlalu banyak menambahkan asam asetat) maka enzim ptyalin tidak akan dapat bekerja.
Pada percobaan kedua dilakukan penambahan iodine untuk mengetahui kandungan karbohidrat (amilum) dengan memberikan reaksi positif warna ungu pada larutan. Fungsi ditaruh pada water bath 38℃, karena suhu tubuh normal manusia berkisar ± 37℃-38℃. Suhunya dioptimalkan agar substrat dan enzim dapat bekerja. Penambahan NaCl dilakukan berdasarkan prinsip homeostatis cairan tubuh, karena disesuaikan dengan cairan tubuh kita. Cairan tubuh kita bersifat garam, oleh karena itu dipakailah NaCl yang merupakan garam disebut juga larutan fisiologis tubuh. Jika tidak sesuai, harus ditambah NaCl lagi agar sama dengan cairan tubuh kita.
Inhibitor berpengaruh pada aktivitas kerja enzim, inhibisi dari aktivitas enzimatik oleh ion logam berat akan membentuk merkaptida dengan gugus sulfhidril (-SH) dari enzim :
E-SH + Ag+ E-S-Ag + H+
Keseimbangan yang ditetapkan tidak mengaktifkan enzim yang memerlukan suatu gugus sulfhidril untuk aktivitasnya, karena reversibilitas dari pembentukan merkaptida maka inhibisi ini dapat dihilangkan dengan pengangkatan ion logam berat. Dalam pengobatan medis keracunan timah dimanfaatkan afinitas logam terhadap gugus SH. Senyawa sulfhidril yang sesuai diberikan untuk berinteraksi dengan logam dalam sistem sirkulasi dan membentuk merkaptida yang kemudian disekresikan.

Secara struktural enzim adalah protein, sehingga sifat-sifat protein dimiliki oleh enzim, seperti termolabil, rusak oleh logam berat (Ag,Pb,Hg), dan terganggu oleh perubahan pH. Ion-ion logam berat seperti Hg2+ salah satunya dapat mengurangi aktivitas enzim. Jika ion logam berat ini berikatan dengan enzim, enzim akan mengalami denaturasi. Ion logam juga berperan penting pada struktur dan katalisis protein, lebih dari 25 % seluruh enzim mengikat kuat atau membutuhkan ion logam untuk aktifitasnya.
a. Metallo Enzim dan “Enzim diaktifkan logam”
MetalloEnzim adalah Enzim yang mengandung sejumlah ion logam ttt, yang dipertahankan selama proses pemurnian. “Enzim diaktifkan logam” yaitu, enzim yang tidak mengikat logam dengan kuat.
b. Kompleks ternary Enzim-logam-substrat
Pada penambahan iodine, phenol dan logam merkuri dapat mendeteksi karbohidrat dengan memberikan reaksi positif warna ungu pada larutan. Dibandingkan dengan fluoride, dan aquadest, phenol dan merkuri lebih terlihat banyak mengandung endapan berwarna ungu yang berarti mengandung banyak karbohidrat dibanding senyawa yang lain (fluoride dan fenol). Uji benedict dilakukan untuk menentukan gula pereduksi dengan syarat harus ada gugus aldehid dan keton bebas yang dikandung oleh karbohidrat agar dapat mereduksi Cu2+ menjadi Cu+. Jika hasilnya positif maka akan memberikan warna merah bata pada larutan tetapi jika negatif, artinya tidak mengandung gula pereduksi. Semakin encer (dengan menambahkan aquadest), maka kecepatan perubahan warna dan tercapainya titik akromik akan semakin cepat. Dalam percobaan diperoleh hasil yang menunjukkan reaksi positif untuk uji benedict pada kloroform dan phenol dengan memberikan warna merah bata, artinya di dalam larutan-larutan tersebut mengandung gula pereduksi.
H. Kesimpulan
Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu : pH, suhu / temperatur, konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, konsentrasi produk reaksi, konsentrasi garam inorganik, aktivator, dan inhibitor.
Macam-macam inhibitor yang dapat mengganggu kerja enzim :
Inhibitor Irreversible
Inhibitor Reversible
Inhibitor Kompetitif
Inhibitor Non-kompetitif
Inhibitor Unkompetitif
Enzim bekerja pada pH tertentu, pada percobaan enzim yang digunakan adalah enzim ptyalin. Hasil yang diperoleh yaitu enzim ptyalin bekerja pada pH 7,4 dan merupakan tabung pertama yang mencapai titik akromik.
Pada percobaan dilakukan juga uji Benedict untuk menguji kandungan karbohidrat pada larutan saliva.
Satu jumlah larutan yang mengandung enzim dapat menghidrolisis 5 ml larutan amilum 1% dalam waktu 30 menit hingga mencapai titik akromik.

Daftar Pustaka
Wirahadikusumah, M. 1989. Biokimia : Protein, Enzim, dan Asam nukleat. Bandung : ITB.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.
Anonima. http://agitoaldi.blogspot.com/2010/07/enzim-ii.html. diakses pada tanggal 13 Desember 2010 09:45 PM.
Anonima. http://filzahazny.wc/2009/07/20/enzim-2/.html. Diakses pada tanggal 01 Desember 09:37 PM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s